Demam Tifoid (Tipes)
Demam tifoid atau tipes adalah infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini dapat berkembang biak dan menyebar ke aliran darah, menyebabkan gejala seperti demam berkepanjangan, kelelahan, sakit kepala, mual, sakit perut, serta sembelit atau diare. Penyakit ini dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Penyebaran tipes umumnya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Salmonella. Di daerah dengan sanitasi dan higienitas rendah, terutama saat banjir, risiko penularan tipes sangat meningkat. WHO bahkan mencatat wabah tipes sebagai penyakit akibat banjir pada tahun 1980 di Mauritius.
Kolera
Kolera adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini memicu diare parah yang dapat menyebabkan dehidrasi ekstrem dan bahkan kematian dalam hitungan jam jika tidak segera ditangani.
Penularan kolera terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Oleh karena itu, daerah yang kesulitan mengakses air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai sangat rentan terhadap kolera. Risiko penularan penyakit ini seringkali melonjak saat musim banjir, seperti yang terjadi pada epidemi kolera di India Barat pada tahun 1998 setelah banjir.
Hepatitis A
Hepatitis A adalah penyakit menular yang menyebabkan infeksi pada organ hati, disebabkan oleh bakteri Hepatovirus A (HAV). Sebagai salah satu penyakit yang disebabkan oleh banjir, Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran penderita, atau melalui kontak langsung.
Gejala yang muncul antara lain demam, pegal-pegal, kehilangan nafsu makan, diare, mual, sakit perut, serta perubahan warna urine, kulit, dan mata menjadi kekuningan.
Malaria
Malaria adalah penyakit berbahaya yang disebabkan oleh parasit Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles. Gejala umumnya meliputi demam, letih, muntah, dan sakit kepala. Dalam kasus yang parah, malaria dapat menyebabkan kulit menguning, kejang, koma, bahkan kematian.
Malaria sebagai penyakit akibat banjir telah sering tercatat dalam data WHO di berbagai belahan dunia, menunjukkan peningkatan risiko saat genangan air menjadi sarang nyamuk.
Hipotermia
Pada awal tahun 2020, BNPB melaporkan beberapa kematian akibat hipotermia yang terkait dengan musim banjir. Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celcius, menyebabkan badan menggigil dan berisiko radang dingin, halusinasi, refleks kaku, tekanan darah rendah, serta sensasi panas yang keliru.
Leptospirosis
Penyakit akibat banjir ini terjadi ketika bakteri Leptospira dari urine dan kotoran tikus masuk ke tubuh melalui luka terbuka, misalnya saat terendam air banjir. Gejala yang timbul meliputi demam, menggigil, dan sakit kepala.