Mengenal Penyakit Varisela dan Jenis Cacar Lain pada Anak

Mengenal Penyakit Varisela dan Jenis Cacar Lain pada Anak

Salah satu penyakit yang umumnya muncul pada masa anak-anak adalah varisela atau yang lebih dikenal dengan cacar air. Selain mudah menular dari satu orang ke orang lainnya, penyakit satu ini juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman di kulit akibat munculnya lenting berisi air yang terasa gatal dan panas. Inilah sebabnya, orangtua sebaiknya tidak menyepelekan penyakit varisela pada anak. Lantas, bagaimana cara mengatasi dan mencegah penyakit ini? Yuk, simak ulasan berikut! 

Apa Itu Varisela atau Cacar Air Pada Anak? 

Varisela atau orang awam mengenalnya sebagai penyakit cacar air adalah sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh virus herpes varicella-zoster. Virus tersebut dapat menular lewat droplet dari mulut penderita saat batuk atau bersin, serta kontak langsung dengan cairan yang ada di dalam lenting cacar. 

Bahkan, virus tetap akan menular sekalipun lenting yang berisi air telah mengering dan mengelupas dari kulit. Tak hanya itu, penyakit cacar ini ternyata juga dapat menular saat seseorang menghirup udara di sekitar penderita setelah lenting cacar yang berisi air pecah. Karena sangat menular, inilah sebabnya anak yang sakit cacar perlu melakukan isolasi dan membatasi interaksi sosial dengan orang lain sampai benar-benar sembuh.

Cacar air biasanya hanya terjadi sekali dalam seumur hidup dan umumnya muncul ketika usia anak masih kecil. Mengutip dalam laman Healthy Children, varisela paling sering terjadi pada anak usia di bawah 10 tahun. Meski kebanyakan orang mengalaminya pada saat masa kanak-kanak, beberapa orang lainnya ternyata ada yang baru mengalami ketika dewasa, sementara lainnya tidak pernah mengalaminya sama sekali. 

Namun, jika sudah terkena cacar sewaktu kecil, tubuh anak akan otomatis membangun sistem kekebalan terhadap virus cacar seumur hidup. Inilah sebabnya, kasus cacar air sangat jarang kambuh saat dewasa. Kendati begitu, dikutip dari situs kesehatan Healthline, seseorang mungkin saja mengalami penyakit ini untuk yang kedua kalinya, sekalipun mereka telah mendapatkan vaksin cacar air. Hal ini dapat terjadi karena mereka memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah atau kasus cacar yang pernah dialami sebelumnya terbilang ringan. Cara terbaik untuk memastikan apakah kamu termasuk yang berisiko tinggi mengalami kekambuhan cacar atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan darah. Jika diperlukan, dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan lainnya untuk memastikan diagnosis. 

Gejala Penyakit Varisela Pada Anak

Gejala Penyakit Varisela Pada Anak

Dalam banyak kasus, gejala penyakit varisela pada anak tidak langsung muncul begitu saja. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 7 hingga 21 hari untuk virus penyebab varisela yakni virus herpes varicella-zoster, untuk berkembang biak di dalam tubuh dan menimbulkan gejala awal pada anak. 

Adapun gejala awal varisela pada anak biasanya meliputi demam tinggi, badan pegal-pegal, sakit kepala, dan nafsu makan menurun. Selang beberapa hari setelah gejala awal tersebut muncul, barulah anak biasanya akan mengalami gejala khas dari penyakit ini, seperti munculNYA ruam kemerahan atau bintik-bintik di sebagian atau sekujur tubuh. Ruam kemerahan itu lambat laun akan berubah menjadi lenting atau bintil yang berisi cairan. Ukuran lentingnya sendiri dapat bervariasi namun pada anak-anak, diameter lenting biasanya tidak lebih dari 0,5 cm. Kemunculan lenting ini umumnya terasa sangat gatal dan tidak nyaman. 

Bagi anak-anak, rasa gatal dan tidak nyaman ini acap kali membuat mereka ingin terus menggaruknya. Nah, di sinilah orangtua berperan penting untuk memastikan bahwa anak tidak menggaruk kulitnya tersebut. Ini karena menggaruk lenting cacar air justru dapat membuat lenting tersebut pecah. Selain akan menambah lenting baru di sekitarnya, hal tersebut juga dapat menimbulkan luka yang sulit untuk dihilangkan.

Jenis Penyakit Cacar yang Dapat Menyerang Anak

Faktanya, cacar air bukanlah satu-satunya penyakit cacar yang dapat menyerang anak-anak. Ada jenis cacar lainnya yang bisa saja menyerang pada anak, berikut ini penjelasan lengkapnya.

Cacar api
Cacar api, atau yang juga disebut sebagai shingles, cacar ular, atau herpes zoster adalah jenis cacar yang sama menularnya seperti cacar air. Hal ini karena cacar api pun disebabkan oleh virus Varicella zoster. Namun, rata-rata orang yang mengalami kondisi ini adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah terkena cacar air. Jadi, jika kamu belum pernah kena cacar air sama sekali, amat kecil kemungkinannya untuk kamu tertular atau terinfeksi virus Varicella zoster. 

Meski disebabkan oleh virus yang sama, cara penularan dan gejala cacar api dan cacar air ternyata berbeda. Bedanya dengan cacar api, cacar jenis ini tidak menyebar melalui batuk ataupun bersin, tetapi dari sentuhan langsung dengan lenting atau cairan lenting yang pecah. 

Sementara dilihat dari gejalanya, pada cacar api, kemunculan lenting di kulit tidak hanya terasa gatal saja, tapi juga perih dan panas yang menusuk di kulit. Selain itu, pada cacar api, lokasi lenting berisi cairan biasanya pun terpusat di satu tempat saja dan membentuk pola mengumpul atau melingkar. Lenting cacar api juga umumnya lebih lama mengering dan hilang bekasnya. Biasanya membutuhkan waktu sekitar 3-5 minggu agar lenting benar-benar kering

Smallpox
Smallpox juga termasuk jenis cacar yang mematikan karena memiliki tingkat keparahan yang serius. Jenis cacar ini dapat menyerang siapa pun tanpa pandang bulu, termasuk pada anak-anak. Penyebab penyakit ini adalah infeksi virus variola yang dapat memperbanyak diri di pembuluh darah di dalam lapisan kulit. Salah satu gejala khas dari penyakit ini adalah adanya lenting lepuhan yang berisi nanah. Selain itu, penyebaran lentingnya pun merata di sekujur tubuh. 

Kabar baiknya, smallpox adalah jenis cacar yang sudah dinyatakan musnah sejak tahun 1980. Sebelumnya, penyakit ini merupakan sebuah wabah mematikan selama ribuan tahun mengancam kesehatan manusia. Kemusnahan penyakit smallpox sejatinya tidak lepas dari peran kemajuan teknologi medis, yakni vaksin cacar. Penemuan vaksin cacar ini bahkan menjadi tonggak sejarah dalam dunia medis, karena menjadi vaksin pertama yang dibuat untuk menekan penyebaran penyakit yang disebabkan akibat infeksi virus. 

Monkeypox
Monkeypox atau orang awam mengenalnya dengan penyakit cacar monyet adalah jenis cacar yang masih masuk dalam keluarga virus pox. Dinamakan cacar monyet karena penularan penyakit ini berasal dari virus langka yang menginfeksi monyet. Virus tersebut dapat memasuki tubuh manusia melalui sentuhan langsung, luka terbuka di kulit, saluran pernapasan, air liur dan selaput lendir. Secara umum, penyakit ini memiliki gejala yang serupa dengan penyakit smallpox. Bedanya, cacar monyet menyebabkan penderitanya mengalami pembengkakan pada kelenjar getah bening yang ada di ketiak. 

Kasus cacar monyet pertama kali teridentifikasi pada tahun 1958 pada sekumpulan kera eksperimental milik suatu instansi kesehatan. Sementara pada manusia, penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1970 di Kongo, Afrika Selatan. Sama seperti penyakit smallpox, penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terutama orang dengan sistem tubuh yang lemah. Menurut laporan, sekitar 10% kasus kematian penyakit cacar monyet diketahui adalah anak-anak. 

Sekadar informasi, hingga saat ini kasus cacar monyet belum ditemukan di Indonesia. Dan, salah satu cara pencegahan terbaik untuk terhindar dari cacar jenis ini adalah dengan melakukan vaksin Jynneos. Vaksin tersebut telah mendapatkan persetujuan oleh FDA sejak tahun 2019 untuk mencegah penyakit smallpox sekaligus monkeypox.

Cara Mengatasi Penyakit Cacar Pada Anak

Penyakit varisela pada anak sebetulnya termasuk yang bersifat self limiting disease. Artinya, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Kendati begitu, gejala varisela pada anak-anak mungkin lebih melemahkan dan mengganggu ketimbang orang dewasa. Selain karena sistem imun anak masih rentan, anak-anak umumnya belum memiliki kendali penuh atas tubuhnya sendiri. Bagi anak-anak, rasa gatal di kulitnya membuat mereka ingin terus menggaruk, bahkan hingga menyebabkan lenting cacar pecah. Jika kondisi tersebut dibiarkan terus, dapat menyebabkan risiko komplikasi seperti infeksi bakteri di kulit. Inilah sebabnya, cacar pada anak sebaiknya tidak disepelekan dan harus ditangani dengan serius oleh para orangtua. 

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan para orangtua untuk mengatasi cacar pada anak adalah dengan sebagai berikut:

  • Memberikan obat cacar, yakni obat acyclovir. Acyclovir sendiri adalah jenis obat antivirus yang dapat membantu mengurangi kemunculan lenting cacar sekaligus mempersingkat waktu sakit anak. Konsultasikan ke dokter atau apoteker mengenai dosis acyclovir yang aman untuk diberikan pada anak. 

  • Obat penurun demam. Gejala awal cacar umumnya ditandainya dengan demam. Supaya demam tidak berlangsung lama dan cepat turun, orangtua dapat memberikan anak obat penurun demam seperti acetaminophen atau paracetamol pada anak. Obat demam tersebut dapat dibeli bebas di apotek , toko obat, swalayan, hingga warung tanpa perlu resep dokter. Namun, pastikan orangtua membaca aturan pakainya dengan teliti sebelum memberikan kepada anak. 

  • Obat antigatal. Obat antigatal, seperti obat antihistamin, juga dapat diberikan untuk membantu meringankan gejala gatal akibat cacar. Orangtua juga dapat memberikan bedak dingin (celamin) untuk menenangkan kulit sekaligus meredakan rasa gatal yang dikeluhkan anak. 

  • Cegah anak agar tidak menggaruk. Untuk menghentikan kebiasaan menggaruk ataupun mengurangi risiko pecahnya lenting, orangtua dapat memberikan sarung tangan dan kaos kaki, memakaikan baju yang longgar dan lembut di kulit, dan rajin menggunting kuku anak supaya tetap pendek. Selain itu, pastikan anak telah divaksin cacar sejak dini agar mencegah terjadinya penularan penyakit ini.

  • Tetap penuhi asupan nutrisi anak. Cacar biasanya menyebabkan anak susah makan. Kendati begitu, pastikan kebutuhan gizi dan nutrisi anak selama sakit tetap terpenuhi. Jika masih bayi, orangtua dapat terus memberikan ASI secara teratur. Sementara pada anak yang sudah bisa makan, hindari memberikan makanan yang terlalu asin, pedas, asin, serta memiliki tekstur yang keras dan tajam. Sebaiknya, berikan anak makanan yang lembut, halus, dan dingin.Jangan lupa, pastikan anak juga banyak minum air untuk mencegah dehidrasi.

Upaya Pencegahan Cacar Pada Anak

Upaya Pencegahan Cacar Pada Anak

Saat ini, cara pencegahan terbaik agar terhindar dari penyakit cacar adalah dengan mendapatkan vaksin cacar. Anda bisa mendapatkan vaksin ini dengan menghubungi dokter anak atau datang langsung ke klinik, rumah sakit ataupun pusat layanan kesehatan terdekat dari rumah. 

Selain itu, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dengan sabun secara teratur, juga menjadi cara pencegahan terbaik dan termudah yang bisa dilakukan. Anda bisa gunakan rangkaian produk Lifebuoy Total 10 agar mendapatkan perlindungan yang optimal dari kuman penyebab penyakit. 

Lifebuoy Total 10 efektif membantu menghilangkan kotoran yang menempel di kulit dan melawan kuman berbagai penyebab penyakit karena formula timol aktif dan ActivSilver+. Keduanya terbukti dapat berperan antiseptik alami yang dapat menghilangkan kuman yang dapat menyebabkan 10 jenis infeksi kulit.

Lifebuoy SABUN CUCI TANGAN ANTISEPTIK TOTAL 10 200ML

Selebihnya dari Lifebuoy:

3 min read

Jangan Asal Pakai, Ini Jenis dan Cara Tepat Kenakan Masker Kesehatan

Bingung dengan banyaknya jenis masker untuk melindungi diri? Cari tahu jenis masker dan cara pakai yang tepat supaya efektif.

3 min read

Manfaat Charcoal Bagi Kulit yang Perlu Anda Ketahui

Produk kecantikan yang menggunakan bahan dasar charcoal kini semakin banyak ditemukan di pasaran.

3 min read

Puasa Tetap Sehat dengan Kebiasaan Cuci Tangan di 3 Waktu Penting Ini

Puasa Tetap Sehat dengan Kebiasaan Cuci Tangan di 3 Waktu Penting Ini

3 min read

Kini Langka, Simak Fakta Ini Sebelum Bikin Hand Sanitizer di Rumah

Bahan utama membuat hand sanitizer hanyalah alkohol dan gel lotion aloevera. Namun, amankah membuat sendiri hand sanitizer di rumah?