Penerapan Protokol Kesehatan 5M Selama Pandemi COVID-19

Protokol kesehatan 5M adalah salah satu aspek penting dalam upaya mengendalikan penyebaran virus COVID-19 di Indonesia. Lantas, apa itu 5M?

Penerapan Protokol Kesehatan 5M Selama Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 di Indonesia belum juga usai. Bahkan, kini virus COVID-19 bermutasi menjadi banyak varian dan penyebarannya pun relatif cepat. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan laju penyebaran virus COVID-19 di Indonesia adalah dengan memperbarui kebijakan penerapan protokol kesehatan yang semula 3M menjadi 5M. 

Penasaran dengan apa itu 5M? Mari ikuti ulasan berikut untuk mengetahui informasi detailnya. 

Sekilas tentang kasus COVID-19 di Indonesia

Pada awal Maret 2020, kasus COVID-19 dikonfirmasi pertama kali muncul di Indonesia. Setahun lebih berlalu, Indonesia nyatanya masih bergulat dengan pandemi COVID-19. Tercatat hingga September 2021 lebih dari empat juta orang Indonesia sudah terinfeksi virus corona. 

Bahkan, saat ini virus COVID-19 terus mengalami mutasi menjadi banyak varian. Yang terbaru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menambahkan varian virus corona B.1.621 atau varian “Mu” dalam daftar mereka. WHO melaporkan bahwa prevalensi varian Mu masih rendah di seluruh dunia. Sejauh ini, varian Mu menyebabkan kurang dari 0,1 persen infeksi COVID-19 secara global. 

Di sisi lain, varian Mu belum terbukti lebih menular atau lebih berbahaya dari varian virus corona lain. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan potensi kemampuan varian Mu dalam menginfeksi tubuh manusia.

Meski varian Mu prevalensinya terbilang rendah daripada varian Delta dan varian ini pun belum dikonfirmasi kehadirannya di Indonesia, masyarakat diminta tetap harus waspada dengan varian terbaru dari virus COVID-19 ini. 

Berdasarkan penelitian tahap awal, diketahui bahwa varian Mu dapat menurunkan sistem imun tubuh terhadap COVID-19. Hal tersebut berefek pada kemampuan antibodi penyintas, kemampuan terapi antibodi dan plasma, dan kemampuan vaksin.

Upaya Menanggulangi Pandemi COVID-19 di Indonesia

Pemerintah telah melakukan beragam cara pencegahan untuk mengendalikan laju penyebaran virus corona di Indonesia. Dua di antaranya adalah vaksinasi serentak dan PPKM. 

Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, vaksinasi berperan penting untuk menurunkan risiko seseorang terinfeksi virus corona. Meski tidak 100 persen melindungi seseorang dari virus COVID-19, pemberian vaksin ini terbukti efektif untuk meringankan gejala yang muncul saat terpapar penyakit. 

Bila seseorang yang telah mendapatkan suntikan vaksin COVID-19, apa pun jenisnya, umumnya gejala yang akan dimunculkan cenderung lebih ringan daripada orang yang belum divaksin.

Vaksinasi sendiri adalah proses memasukkan zat atau senyawa untuk membentuk sistem kekebalan ke dalam tubuh. Efeknya, tubuh akan otomatis membentuk antibodi untuk melawan virus yang masuk, sehingga gejala yang akan dialami ketika terinfeksi suatu virus pun tidak begitu berat. Selain vaksinasi, pemerintah pusat juga membuat kebijakan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sebagai upaya pengendalian pandemi COVID-19 di Indonesia sejak awal tahun 2021. 

Kebijakan PPKM ini dibuat per level, dari level 1 sampai 4. Setiap level pun memiliki kriteria dan target yang jelas. Ambil contoh level 4. Dari PPKM Level 1-4, yang menjadi tingkat tertinggi adalah level 4. Disebut PPKM level 4 apabila kasus konfirmasi positifnya per 100 ribu penduduk di atas 150.

Sebelum menerapkan kebijakan PPKM, sebetulnya telah diterapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlangsung di sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, lain halnya dengan PSBB, kebijakan PPKM darurat ini dinilai lebih ketat dari aturan-aturan sebelumnya dalam membatasi aktivitas masyarakat.

Selama PPKM, semua aktivitas perkantoran di sektor non-esensial diharuskan bekerja 100 persen dari rumah atau work from home (WFH). Sementara untuk perkantoran sektor esensial, diperbolehkan bekerja di kantor atau work from office (WFH) maksimal 50 persen dari total karyawan. Untuk sektor kritikal, diperbolehkan WFO dengan syarat para pegawai maupun tingkat atasan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. 

Kebijakan PPKM darurat ini pun berimbas pada kegiatan perniagaan, operasional angkutan umum, seni/budaya, olahraga hingga belajar dan mengajar di sekolah. Pemerintah akan terus menerapkan kebijakan PPKM sampai situasi kasus positif COVID-19 di Indonesia dinilai mereda. 

Mengenal Protokol Kesehatan dan Manfaatnya

Selama masa pandemi ini, kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah protokol kesehatan. Ya, istilah satu ini kerap berseliweran di berbagai tempat dan media, bahkan jadi hal penting yang tak boleh dilewatkan di setiap aktivitas. Lantas, apa itu protokol kesehatan? 

Protokol kesehatan adalah sekumpulan aturan dan ketentuan yang perlu diikuti oleh segala pihak agar dapat beraktivitas secara aman selama masa pandemi COVID-19 yang tengah merebak seperti sekarang. 

Dengan adanya protokol ini, masyarakat diharapkan tetap dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman, sekaligus tidak membahayakan keamanan diri sendiri maupun kesehatan orang lain. Penerapan protokol kesehatan ini juga sebagai upaya menekan penularan COVID-19. 

Jadi, bila masyarakat mengikuti segala aturan yang tertera di dalam protokol kesehatan dengan baik dan benar, maka penularan COVID-19 dari satu orang ke orang lain pun dapat diminimalisir. Di Indonesia, kebijakan mengenai protokol kesehatan dibuat oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). 

Kemenkes telah mengeluarkan protokol kesehatan mengenai pencegahan dan pengendalian secara spesifik virus corona melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Protokol yang dibuat Kemenkes tersebut menjelaskan secara lengkap mengenai aturan-aturan yang perlu dilakukan oleh semua orang yang berada di tempat atau fasilitas umum. Kamu dapat mengakses aturan protokol kesehatan di tempat atau fasilitas umum secara lebih lengkap di situs resmi Kemenkes(656kb pdf).

Penerapan Protokol Kesehatan dengan Gerakan 5M

Di masa awal pandemi, pemerintah mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan 3M dengan benar dan tepat. Adapun 3M sendiri adalah singkatan dari memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Dengan menerapkan protokol 3M ini, setiap orang secara tidak langsung telah berpartisipasi dalam membantu memutus rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia. 

Namun, untuk menguatkan strategi penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia, pemerintah akhirnya mengubah pedoman dan protokol kesehatan 3M ke versi yang terbaru dan lebih relevan. Hal ini seiringan dengan banyak varian baru dan kasus positif corona yang terus melonjak, terutama setelah musim libur lebaran. Versi terbaru dari protokol kesehatan COVID-19 adalah gerakan 5M. Gerakan 5M ini meliputi mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

#1 Mencuci Tangan

Mencuci Tangan

Mencuci tangan tidak hanya diperlukan sebagai upaya mencegah penularan virus corona, tapi juga menjaga kesehatan tubuhmu secara menyeluruh. Kenapa bisa begitu? Faktanya, tangan adalah perantara utama dari berbagai kuman penyebab penyakit untuk masuk ke dalam tubuh kita. 

Bisa dibayangkan. Bila tangan kamu kotor, maka berbagai kuman penyakit bisa dengan mudahnya menyebar dan menginfeksi tubuh. Inilah sebabnya, mencuci tangan masuk dalam protokol kesehatan untuk menjaga kebersihan sekaligus kesehatan tubuh agar tidak mudah terinfeksi virus penyebab penyakit, termasuk virus corona.  

Agar mendapatkan manfaat yang optimal, pastikan ketika mencuci tangan kamu menggunakan sabun dan air yang bersih. Selain itu, pastikan kamu melakukannya dengan teknik yang benar. 

#2 Memakai Masker

Memakai Masker

Protokol kesehatan yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah memakai masker. Jika sebelumnya imbauan menggunakan masker hanya untuk orang yang sakit, maka kini siapapun wajib menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah atau di dalam ruangan. Berbagai penelitian telah melaporkan bahwa masker terbukti efektif untuk mencegah droplet atau cairan batuk dari orang yang terinfeksi masuk ke tubuh orang yang sehat. 

Pada April 2021, Pusat Pengendalian dan pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat membuat imbauan untuk menggunakan masker double yang terdiri dari masker medis dan dilapisi dengan masker kain. Penggunaan masker double ini dinilai dapat memberikan perlindungan yang lebih baik karena dapat menyaring droplet hingga 85,4%. Dengan sistem filtrasi yang lebih baik ini, partikel virus akan sulit terhirup ataupun keluar dari masker. 

#3 Menjaga Jarak

Menjaga Jarak

Menjaga jarak dapat memperlambat penyebaran virus dari orang tanpa gejala (OTG) dan orang yang sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Tidak mengherankan bila menjaga jarak adalah bagian dari protokol kesehatan COVID-19 yang wajib dilaksanakan oleh semua masyarakat. Dengan menjaga jarak fisik, kemungkinan kamu akan menghirup dan menyentuh percikan droplet dari orang yang terinfeksi akan berkurang. 

Pada dasarnya menjaga jarak tidak hanya sekadar melindungi diri sendiri tertular  virus corona, melainkan juga salah satu upaya melindungi orang yang ada di sekitar kamu. 

#4 Menjauhi Kerumunan

Menjauhi Kerumunan

Menjauhi kerumunan adalah gerakan yang ditambahkan dalam protokol kesehatan terbaru dan menjadi poin penyempurna dari protokol sebelumnya. Lalu, kenapa menjauhi kerumunan itu penting? Faktanya, berada di kerumunan membuat kamu sulit untuk menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan. 

Di sisi lain, di kerumunan mungkin saja kamu menemui banyak orang yang tidak menggunakan masker dengan benar,  atau masker yang dipakai tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Sehingga meningkatkan risiko kamu untuk terpapar berbagai virus penyakit. Maka dari itu, guna menghindari paparan virus Corona, ada baiknya kamu menghindari tempat-tempat ramai, seperti ke mall, kafe, tempat ibadah, aula, dan lain sebagainya. 

#5 Mengurangi Mobilitas

Mengurangi Mobilitas

Poin terakhir dari protokol kesehatan 5M adalah mengurangi mobilitas. Mobilitas yang tinggi dapat meningkatkan risiko kamu untuk terpapar virus penyebab penyakit. Apalagi bila aktivitas yang kamu lakukan bersinggungan dengan banyak orang dan berada di dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang tidak memadai. 

Inilah sebabnya, untuk hal-hal non-esensial yang masih bisa dilakukan secara virtual, usahakan untuk tetap berada di rumah. Dengan mengurangi mobilitas seperti ini, risiko kamu untuk terinfeksi virus corona pun akan semakin kecil. 

Optimalkan Gerakan 5M dengan Rangkaian Produk Lifebuoy

Selain menerapkan 5M secara ketat dan tepat, ada satu cara lain yang bisa kamu lakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona. Adapun caranya adalah dengan menjaga kebersihan tubuh menggunakan produk yang tepat. 

Anda bisa menggunakan rangkaian produk Lifebuoy, mulai dari Lifebuoy Hand SanitizerLifebuoy Sabun Cuci Tangan Total 10 dan Lifebuoy Sabun Cair Total 10 untuk menjaga kebersihan tangan dan tubuh agar terhindar dari virus penyebab penyakit.

Lifebuoy Hand Sanitizer

Selebihnya dari Lifebuoy:

10 Cara Mengatasi Hidung Tersumbat dan Mampet

Apa saja penyebab hidung tersumbat. Begini cara mengatasi hidung tersumbat dan mampet yang mengganggu.

12 Penyebab Kulit Gatal Dan Cara Mengatasinya

Apa saja penyebab penyakit gatal pada kulit. Begini cara mengatasi gatal pada kulit yang mengganggu.

3 min read

Mengenal Stunting, Penyebab Hingga Cara Pencegahannya

Stunting adalah penyakit yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Kenali pengertian stunting lebih jauh di artikel ini.

3 min read

2 Cara Mudah Agar Si Kecil Terbiasa Cuci Tangan Pakai Sabun

2 Cara Mudah Agar Si Kecil Terbiasa Cuci Tangan Pakai Sabun