Lifebuoy Musim Banjir Jaga Kesehatan dan Waspada 7 Penyakit Berikut

Musim Banjir, Jaga Kesehatan dan Waspada 7 Penyakit Berikut

AddTHis is disabled because of cookie content

Musim hujan sering menyisakan kisah banjir bagi penduduk Indonesia di beberapa daerah. Bencana ini juga tidak jarang mendatangkan penyakit yang disebabkan banjir. Mereka yang terkena dampak banjir sering harus berurusan dengan infeksi akibat kuman penyakit pada rendaman air hujan. Selain itu, penyakit akibat banjir yang berkaitan dengan bersarangnya nyamuk juga tidak boleh disepelekan.

Menurut World Health Organization (WHO), berikut adalah tujuh penyakit akibat banjir yang wajib menjadi perhatian saat musim hujan:

1.    Demam Tifoid (Tipes)

Demam tifoid atau tipes adalah infeksi yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Jika bakteri ini sempat masuk ke sistem tubuh, sifatnya akan berlipat ganda dan menyebar ke aliran darah. Gejala tipes antara lain demam yang berkepanjangan, lemah dan lelah, sakit kepala, mual, sakit perut, serta dan sembelit atau diare. Penyakit ini bisa mengancam keselamatan jiwa jika tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Penyebaran tipes bisa terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Salmonella. Pada daerah yang sanitasi dan higienitasnya rendah, termasuk pada masa banjir, risiko tipes bisa meningkat. WHO juga pernah mencatat tipes sebagai wabah penyakit akibat banjir pada 1980 di Mauritius.

Untuk mencegah penyakit tipes, Anda disarankan untuk minum air bersih, menjaga sanitasi dan higienitas, serta mendapatkan vaksinasi yang tepat. Mencuci tangan juga sangat penting untuk menghindari dari penyakit tipes

2.    Kolera

Kolera adalah infeksi akut akibat bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini akan menyebabkan diare parah, yang berpotensi dehidrasi dan bahkan kematian dalam beberapa jam; jika tidak ditangani dengan tepat.

Transmisi penyakit kolera melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Jadi, daerah yang minim akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi akan sangat rentan terjangkit penyakit kolera. Terutama pada musim banjir, risiko transmisi penyakit ini sering meningkat, contohnya pada 1998 terjadi epidemi kolera di salah satu daerah India Barat akibat banjir. Hampir serupa dengan tipes, penyakit kolera bisa dicegah dengan minum air bersih dan sanitasi yang memadai.

3.    Hepatitis A

Hepatitis A adalah penyakit menular yang menyebabkan infeksi pada organ hati oleh bakteri Hepatovirus A (HAV). Sebagai salah satu penyakit yang disebabkan oleh banjir, Hepatitis A bisa ditularkan karena makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran penderita atau kontak langsung.

Gejalanya antara lain demam, pegal-pegal, hilangnya selera makan, diare, mual, sakit perut, dan urine serta kulit dan mata tampak kekuningan. Supaya tidak terjangkit penyakit akibat banjir ini, pastikan sanitasi sudah memadai, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta mendapatkan vaksinasi.

4.    Malaria

Malaria adalah penyakit berbahaya yang disebabkan parasit Plasmodium. Parasit ini ditransmisikan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles. Gejalanya antara lain demam, letih, muntah, dan sakit kepala. Pada beberapa kasus serius, malaria juga bisa menyebabkan penguningan kulit, kejang, koma, dan kematian.

Fenomena malaria sebagai penyakit akibat banjir sudah sering tercatat pada data WHO di beberapa bagian dunia. Resikonya bisa diminimalkan dengan memasang kelambu, pengusir nyamuk atau kontrol lain seperti insektisida, serta memastikan tidak ada genangan air.

5.    Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi virus dengue melalui nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya hampir sama dengan flu, tetapi sering berpotensi komplikasi serius. Penderita demam berdarah harus mendapatkan penanganan medis profesional di rumah sakit untuk memastikan penyembuhan.

Sering menjadi penyakit akibat banjir, DBD terjadi karena masyarakat harus sering menampung air bersih saat musim banjir. Ditambah curah hujan tinggi, bisa menjadi sarang nyamuk DBD. Karena itu, pastikan tidak ada potensi tempat berkembang biak nyamuk di sekitar rumah saat musim banjir.

6.    Hipotermia

Pada awal 2020, BNPB melaporkan tiga kematian akibat hipotermia yang berkaitan dengan musim banjir. Hipotermia terjadi akibat penurunan suhu tubuh di bawah 35 derajat Celcius  sehingga badan menggigil dan berisiko mendatangkan radang dingin, halusinasi, refleks yang kaku, darah rendah, dan reaksi yang berlawanan misalnya merasa panas. Segera hangatkan tubuh agar tidak sampai menderita penyakit akibat banjir ini di musim hujan.

7.    Leptospirosis

Penyakit akibat banjir ini terjadi ketika air seni dan kotoran tikus masuk ke tubuh melalui luka, misalnya rendaman air hujan; tubuh menjadi demam, menggigil, dan sakit kepala. Untuk menghindari penyakit ini, pastikan Anda menghindari terkena air banjir terutama jika mereka yang memiliki luka terbuka. Gunakan alas kaki tinggi dan tebal, sekaligus untuk menghindari terkena paku atau benda tajam lainnya.

Menjaga kebersihan menjadi semakin penting saat musim hujan dan banjir. Selain sabun antibakteri di rumah, pastikan Anda membawa Lifebuoy Hand Sanitizer saat keluar rumah. Selalu jaga kebersihan diri di mana pun sebagai upaya menerapkan gaya hidup sehat.

 

Sumber:

id.theasianparent.com/waspadai-6-penyakit-pasca-banjir-ini

halodoc.com/8-penyakit-yang-umum-muncul-setelah-bencana-banjir

liputan6.com/health/read/799229/7-penyakit-yang-sering-muncul-saat-banjir

koran-jakarta.com/mewaspadai-penyakit-yang-muncul-saat-banjir/

thejakartapost.com/life/2020/01/02/six-common-diseases-to-watch-out-for-during-floods.html

who.int/hac/techguidance/ems/flood_cds/en/

 

Diakses pada:

1 April 2020